<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sekedar menulis - menulis sekedarnya</title>
	<atom:link href="http://diazepamania.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diazepamania.wordpress.com</link>
	<description>tentang segala-galanya yang hanya sekedarnya saja...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Apr 2011 08:05:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='diazepamania.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/d0329f896ac27d39e50b24e9fc3f5b65?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>sekedar menulis - menulis sekedarnya</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://diazepamania.wordpress.com/osd.xml" title="sekedar menulis - menulis sekedarnya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://diazepamania.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pasien Skin Grafting di Puskesmas</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/29/pasien-skin-grafting-di-puskesmas/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/29/pasien-skin-grafting-di-puskesmas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 04:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita PTT]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo utara]]></category>
		<category><![CDATA[skin graft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Seumur-umur selama kuliah sampe lulus dokter di Jawa belum pernah ngrawat pasien skin grafting, cuma beberapa kali liat pasien post skin grafting pas koass, cuma liat, gak ikut ngrawat… Nah, di sini malah dapet pasien post skin grafting. Sudah lupa istilahnya apa, pokoknya skin graft-nya diambil dari kulit abdomen, dengan jaringan kulit yang masih nempel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=113&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seumur-umur selama kuliah sampe lulus dokter di Jawa belum pernah ngrawat pasien skin grafting, cuma beberapa kali liat pasien post skin grafting pas koass, cuma liat, gak ikut ngrawat… Nah, di sini malah dapet pasien post skin grafting. Sudah lupa istilahnya apa, pokoknya skin graft-nya diambil dari kulit abdomen, dengan jaringan kulit yang masih nempel sebagian ke abdomen…</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-113"></span>Pasien itu sendiri sebetulnya adalah pasien yang aku rujuk ke RS dengan crash injury ibu jari kanan. Waktu itu pasien datang dengan tangan kanan sudah dibungkus kain yang berlumuran darah, karena ibu jarinya terkena tali tambang di pelabuhan. Lebih dari separuh jaringan kulit dan jaringan di bawah kulit hilang, jadi ibu jari tangan kanan bagian depan sudah tinggal tulang aja, dengan kuku yang juga terlepas. Wah, cuman ada satu pilihan nih biar luka itu bisa dijahit, amputasi jari. Setelah saya jelaskan kondisi luka dan plan terapi yang akan dilakukan kalau ditangani di Puskes, tetap saya sarankan lebih baik ke RS. Pikir saya, siapa tau ntar di RS ada cara lain selain amputasi, sayang banget kan kalo ibu jari tangan kanan mau dipotong… ternyata pasien lebih memilih dirujuk ke RS. Wah, pasien cerdas nih, jarang-jarang pasien di sini sebegitu gampangnya mau dirujuk, biasanya sih mati-matian minta dirawat di Puskes dulu. Akhirnya, pasien itu saya beri surat rujukan ke RS, dengan hanya dilakukan bebat tekan di Puskes.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya sih saya beranggapan paling-paling di RS juga akan tetap dilakukan amputasi jari, seperti yang biasa kami lakukan waktu koass dulu. Tapi kasus ini kan ibu jari tangan kanan, kasian sekali kalo harus diamputasi. Bayangin aja mau kerja tanpa ibu jari tangan kanan, susah banget kan…</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira satu minggu kemudian pasien itu datang kontrol ke Puskes, tangan kanan diikatkan ke abdomen dengan elastic bandage yang tertutup kaos. Saya pikir, ngapain orang ini pake nyembunyiin tangan dibalik kaos ya…  Saat saya tanya, pasien cuma bilang kalo luka di tangannya itu ditempelkan ke perut. Wah, jangan-jangan skin grafting nih… Ternyata bener, setelah elastic bandage itu saya buka, crash injury yang saya kira mau diamputasi itu telah tertempel di kulit abdomen. Kulit jari yang sudah hilang mau diganti dg kulit dari abdomen. Sebagian kulit abdomen dibuka, trus dijaitkan ke jari yang udah gak berkulit. Jadi, jari itu musti nempel terus di abdomen sambil nunggu kulit abdomen itu betul-betul tersambung ke jaringan di jari yang luka, baru kemudian dilepas dari abdomen, gitu… sayang banget nih, gambarnya kurang jelas, gak fokus…</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="skin graft1" src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/04/skin-graft1.jpg?w=403&#038;h=302" alt="" width="403" height="302" /></p>
<p style="text-align:justify;">Saat saya tanya-tanya tentang tindakan yang dilakukan saat di RS, ternyata pada awalnya memang dokter mau amputasi jari itu. Tapi rupanya pasien ini berpikiran ke depan, dia gak mau diamputasi, sampe akhirnya dokter menawarkan dilakukan skin grafting itu… Salut juga sama bapak ini, biarpun tergolong orang susah, tapi dia lebih rela kehilangan uang jutaan rupiah daripada kehilangan ibu jari tangan kanannya, yang notabene memang sangat diperlukan untuk bekerja… Tentu saja dengan konsekwensi untuk beberapa waktu dia harus sabar menahan posisi tangan tetap menempel di abdomen macam itu, benar-benar perjuangan yang keras…</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="skin graft1" src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/04/skin-graft2.jpg?w=403&#038;h=302" alt="" width="403" height="302" /></p>
<p style="text-align:justify;">Yah, akhirnya setiap 2 hari sekali pasien ini saya suruh kontrol ke Puskes untuk dilakukan perawatan luka, sambil seminggu sekali tetap kontrol ke RS agar dokter bedah tetap bisa memantau perkembangan skin grafting itu. Setelah kira-kira 2 minggu, skin grafting itu dipisahkan dari abdomen. Hasilnya??? Ada sedikit nekrosis di ujung jari, tapi masih bisa dilakukan nekrotomi yang tidak merusak hasil skin graft di sekitarnya. Secara keseluruhan, jari masih tampak aneh karena kulit depan ibu jari tangan tergantikan dg kulit abdomen yang secara struktur dan fungsi jelas beda. Tidak ada kuku, dan ada bagian ujung jari yang terpaksa tetap tidak terbungkus kulit (bagian yang nekrosis, ± diameter 0,5 cm). Tapi memang itulah hal terbaik yang bisa dilakukan di sini… At least, secara fungsi jari itu tetap bisa dipakai kerja biarpun secara estetik tampak tidak bagus.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=113&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/29/pasien-skin-grafting-di-puskesmas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/04/skin-graft1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">skin graft1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/04/skin-graft2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">skin graft1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata saya kemasukan burung dok&#8230;</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/26/mata-saya-kemasukan-burung-dok/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/26/mata-saya-kemasukan-burung-dok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 03:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita PTT]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika ada pasien periksa dengan keluhan matanya perih, gatal, merah. Ketika saya tanya kenapa itu mata bisa jadi seperti itu, jawabannya sempat mengagetkan, “Mata saya kemasukan burung dok… pidis sekali&#8230;!!”. Wow, burung masuk ke dalam mata, gak masuk akal nih orang, ato saya yang salah dengar ya… “Itu dok, burung kecil-kecil yang terbang-terbang itu…”, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=106&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu ketika ada pasien periksa dengan keluhan matanya perih, gatal, merah. Ketika saya tanya kenapa itu mata bisa jadi seperti itu, jawabannya sempat mengagetkan, “Mata saya kemasukan burung dok… pidis sekali&#8230;!!”. Wow, burung masuk ke dalam mata, gak masuk akal nih orang, ato saya yang salah dengar ya… “Itu dok, burung kecil-kecil yang terbang-terbang itu…”, begitu jawaban ibu itu ketika saya tanyakan sekali lagi. Nah lo, betul burung nih, bisa terbang…
</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-106"></span>Tapi pas saya periksa mata pasien itu kok gak ada burung ya di dalamnya (saya jadi ikutan gak masuk akal nih, masak nyari burung di dalam mata, hehehe….). Setelah anamnesa lebih lanjut lagi, kali ini dengan didampingi perawat sebagai translator, ternyata burung itu sebutan masyarakat sini untuk serangga kecil-kecil yang suka terbang pas maghrib-maghrib itu. Kalo burung yang itu sih, mata saya sendiri juga sering kemasukan pas naik motor malam-malam. Hmm&#8230; jauh banget, serangga bisa jadi burung.
</p>
<p style="text-align:justify;">Lain hari, ada lagi pasien datang dengan luka sayatan yang lumayan dalam di tangannya. Saya pikir pasti kena pisau nih, khas banget bentuk lukanya, dalam, dengan tepi yang rata. Ketika saya tanya, jawabannya juga sempet bikin heran, “Bukan pisau ini dok, tapi kena bulu”. Bulu apa nih, tajem banget ya itu bulu… “Lah bapak ini tadi ngapain kok bisa kena bulu, jadi luka begini?”, tanya saya lagi. “Saya tadi sedang bikin dinding dari bulu dok, terus tangan saya kena bulu yang sedang saya potong”. Wah, lebih aneh lagi ini, bulu mau dijadikan dinding, dan bisa bikin luka sayatan yang dalam di tangan. Bulu apakah itu??? Hehehe… ternyata bulu itu sebutan masyarakat sini untuk bambu. Ealah, bambu toh… pring sing arep digawe gedheg kuwi toh pak… tak kiro lak wulune pithik, kok sakti tenan pithik kuwi, wulune iso kuat koyo ngono…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=106&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2010/04/26/mata-saya-kemasukan-burung-dok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TOXIC EPIDERMOLYSIS NECROTICANS</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/27/toxic-epidermolysis-necroticans/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/27/toxic-epidermolysis-necroticans/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 08:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita PTT]]></category>
		<category><![CDATA[Steven Johnson Syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[Toxic Epidermolysis Necroticans]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu adalah hari Minggu, yang semestinya adalah hari libur bagi sebagian besar pegawai. Tapi tidak demikian bagiku, karena hari Minggu itu bertepatan dengan jadwal jagaku di Puskesmas Anggrek. Sejak awal Januari 2010, Puskes kami memang telah beralih dari Puskes rawat jalan menjadi Puskes rawat inap. Jadi, sebagai konsekwensinya, ya tidak ada hari libur untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=94&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hari itu adalah hari Minggu, yang semestinya adalah hari libur bagi sebagian besar pegawai. Tapi tidak demikian bagiku, karena hari Minggu itu bertepatan dengan jadwal jagaku di Puskesmas Anggrek. Sejak awal Januari 2010, Puskes kami memang telah beralih dari Puskes rawat jalan menjadi Puskes rawat inap. Jadi, sebagai konsekwensinya, ya tidak ada hari libur untuk pelayanan UGD dan rawat inap di Puskes kami, buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-94"></span>Dari malam hari sudah aku rencanakan hari Minggu itu untuk meninggalkan Puskes sebentar, jaga on call selama ± 1 jam, pergi ke pasar Minggu (kira-kira 15 menit dari Puskes naik motor) untuk belanja beras dan kebutuhan lain-lain yang sudah mulai habis. Saat siap-siap mau berangkat, kira-kira jam 9 pagi, tiba-tiba ada yang datang ke Puskes untuk berobat karena gatal-gatal. Pasien tsb (wanita 35 th) mengalami gatal-gatal dengan ruam kemerahan di tubuhnya sejak 3 hari yang lalu. Ceritanya, pasien ini pernah berobat ke Puskes ± 2 minggu yang lalu, dengan keluhan nyeri-nyeri di kepala yang khas karena neuropatic pain. Karena nyerinya neuropatic, aku kasih terapi kombinasi antara paracetamol sebagai analgetik, vitamin neurotropik, dengan carbamazepin untuk meringankan neuropatic pain-nya. Setelah minum obat-obat tsb di rumah, pasien merasa membaik sebelum obat habis, kemudian sisa obat disimpan. Nah, 2 minggu kemudian, pasien merasa mengalami nyeri serupa, kemudian sisa obat tsb diminum lagi tanpa periksa ke Puskes. Dari sinilah petaka itu muncul, sehari setelah minum obat itu, pasien merasakan gatal-gatal disertai ruam kemerahan di tubuhnya. 3 hari tidak ada perbaikan, pasien pergi ke Puskes (pada hari Minggu itu) untuk berobat.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien aku diagnosa dengan urtikaria et causa reksi alergi terhadap obat (kemungkinan karena carbamazepin, dari kartu status rawat jalan, pasien dah sering banget dapet terapi paracetamol dan vitamin). Waktu itu kondisi pasien sangat bagus, hanya ada papulae eritematous tersebar di tubuhnya, khas urtikaria banget. Tapi, dalam hati aku dah mikir, wah… drug eruption neh, musti waspada…!!! Setalah aku jelasin kalo pasien kemungkinan mengalami alergi obat, kemudian aku sarankan pasien tsb rawat inap di Puskes, sekalian untuk observasi perkembangan penyakit. Ternyata, pasien sebetulnya gak niat pergi ke Puskes. Niat asli hanya untuk pergi belanja ke pasar Minggu, karena satu jalan, sekalian aja singgah di Puskes. Setelah KIE, pasien minta disuntik aja dulu, mungkin karena merasa penyakitnya ringan, gak mengganggu aktivitas (memang di sini biasanya susah banget kalo mau nyururh orang buat dirawat inap). Akhirnya, aku cuman injeksi dexa dengan difenhidramin, plus terapi oral loratadin, dexa, dan cyproheptadin. Aku pikir, dibom aja sama semua antihistamin yang aku punya. Pasien tetap tidak dirawat inap, dengan syarat, kalau sampai besok (Senin) pagi gatal-gatal dan ruam tidak berkurang, atau tambah berat, pasien HARUS kembali ke Puskes. Seberti kebanyakan pasien lain yang menolak rawat inap, ibu tsb menyanggupi syarat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Esoknya, seharian aku nunggu dengan harap-harap cemas, datang gak ya pasien kemaren. Sampai malam, ternyata pasien tsb tidak nongol. Ya udah, paling dah membaik dengan bom antihistamin kemaren, begitu pikirku saat itu. Tapi ternyata semuanya berbalik 180 derajat pas hari Kamis (saat itu istriku yg tugas jaga Puskes) pasien itu datang lagi, HANYA UNTUK MINTA SUNTIK ke perawat yang tinggal di samping Puskes karena seluruh tubuhnya melepuh. Karena melihat tubuh yang melepuh macam itu, perawat tsb manggil dokter jaga. Saat dipanggil, aku langsung mikir, jangan-jangan itu pasien yang hari Minggu kemaren&#8230; Dengan deg-degan aku ikut liat pasien tsb, jreeng….. ternyata dugaanku bener, ibu yang itu dengan full blown gejala Steven Johnson Syndrome (SJS), lesi di kulit, mukosa, dan mata, dengna bulae yang tersebar di seluruh tubuh. Reaksi pertamaku liat pasien tsb adalah nanya, sejak kapan gatal-gatal itu tambah parah sampe jadi macam gini??? “Sejak hari Senin”, enteng aja pasien itu njawabnya… Gubrakkk… antara marah, kasian, merasa bersalah, semua jadi satu saat denger jawaban itu. Langsung aku tanya lagi, ibu masih inget apa yang saya bilang hari Minggu kemaren??? Kenapa ibu gak dateng lagi ke Puskes, malah dibiarin di rumah sampai 4 hari? Pasien cuma diem, nunduk gak ada jawaban sama sekali…</p>
<p style="text-align:justify;">Karena udah kayak gini, langsung aja pasien plus keluarga aku KIE tentang penyakit ini, dan langsung aku bilang, gak bisa kalo cuma mau minta suntik, harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Setelah melalui beberapa saat perdebatan, keluarga pasien akhirnya bersedia dirujuk ke Rumah Sakit. Langsung aja pasien dipasang iv line, injeksi dexa-difenhidramin, kemudian langsung rujuk ke Rumah Sakit di kota. Aku sendiri yang nganter pasien saat itu, tanggung jawab moral neh, bagaimanapun juga kan SJS ini terjadi karena terapi yang aku berikan 2,5 minggu yang lalu. Segala urusan awal di RS aku beresin, kemudian keluarga pasien aku arahkan untuk ngurus Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), biar segala perawatan di RS selanjutnya gak perlu bayar lagi (pasien saat itu tidak memiliki kartu Jamkesmas maupun Jamkesda). Memang kalo di sini, misalnya ada pemilik kartu Jamkesda yang punya kartu dobel, atau pemilik kartu itu dah pindah, atau dah meninggal, maka selama kartu itu masih berlaku, bisa digantikan dengan nama orang lain, harus melewati birokrasi bertingkat dulu tentunya, dari kantor desa, Puskesmas, Dinas Kesehatan, kemudian ke kantor PT. Askes di Kota. Nah, untungnya di desa tempat tinggal pasien tsb ada anggota sebuah LSM yang sering banget ngurusin masalah kayak gini, jadi bisa lebih cepet ngurus penggantian kartu Jamkesda tsb.</p>
<p style="text-align:justify;">Pulang dari ngrujuk pasien tsb, aku langsung buka-buka ebook di laptop, review lagi masalah SJS. Eh, ternyata yang tadi itu bukan SJS, malah lebih berat lagi, dah tahap TEN (Toxic Epidermolysis Necroticans). Berdasarkan ebook yang aku baca sih (tulisan taon 2006), SJS itu kalo bula yang ada di seluruh tubuh kurang dari 10%. Kalo 10-30% disebut Steven Johnson Syndrome-Toxic Epidermolysis Necroticans (SJS-TEN). Nah, kalo dah lebih dari 30% disebut Toxic Epidermolysis Necroticans.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak saat itu, sampe sekarang pun aku masih sering kepikiran kejadian ini. Padahal dulu pas kuliah, dah tahu obat-obat apa aja yang kira-kira sering bikin alergi, salah satunya ya carbamazepin itu. Dulu pas di Jawa sering banget baca berita di koran tentang kejadian SJS karena alergi obat, biasanya sih rekan-rekan wartawan selalu nulis itu sebagai malpraktek, dan pas ditanya temen-temen di luar dunia medis, aku selalu jelasin dan mbela temen-temen sejawat yang diberitakan melakukan malpraktek karena kejadian alergi obat tsb. Eh, ternyata sekarang malah kejadian macam itu terjadi sama aku sendiri… Hmm… harus lebih ati-ati emang, plus lebih banyak berdoa biar tidak ada lagi kejadian luar biasa macam ini lagi…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=94&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/27/toxic-epidermolysis-necroticans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SMADAV DI GORONTALO UTARA</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/18/smadav-di-gorontalo-utara/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/18/smadav-di-gorontalo-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 12:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[lain-lain aja deh..]]></category>
		<category><![CDATA[antivirus lokal]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo utara]]></category>
		<category><![CDATA[smadav]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Bagi pengguna komputer dalam negeri tentu sudah gak asing lagi dengan Smadav. Sebagai salah satu dari sekian banyak antivirus lokal buatan anak negeri, Smadav termasuk salah satu yang berkembang dengan pesat. Akhir-akhir ini di negeri kita memang banyak sekali antivirus lokal yang dikembangkan, seolah-olah sedang jadi trend baru. Banyak yang bilang, tujuannya adalah untuk mengurangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=86&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="smadav81" src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/03/smad81_cr.jpg?w=237&#038;h=164" alt="" width="237" height="164" /></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi pengguna komputer dalam negeri tentu sudah gak asing lagi dengan Smadav. Sebagai salah satu dari sekian banyak antivirus lokal buatan anak negeri, Smadav termasuk salah satu yang berkembang dengan pesat. Akhir-akhir ini di negeri kita memang banyak sekali antivirus lokal yang dikembangkan, seolah-olah sedang jadi trend baru. Banyak yang bilang, tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap antivirus-antivirus asing. Bahkan di situs resminya, Smadav mengklaim dirinya lebih bagus dari antivirus impor manapun untuk proteksi virus yang menyebarluas di Indonesia, karena antivirus impor dikembangkan untuk membasmi virus-virus luar negeri. Memang sih, kalau dipikir-pikir, pengembangan antivirus dalam negeri pasti berbasis dari virus-virus yang banyak beredar di Indonesia, jadi bisa lebih terfokus untuk mengatasi virus-virus tersebut. Siapa yang lebih fokus menangani bidang tertentu, hasilnya pasti lebih bagus dong, begitu kira-kira ya…</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-86"></span>Nah, tentang Smadav di Gorontalo Utara nih, dulu waktu pertama berangkat PTT ke sini, kami tidak membayangkan akan bertemu dengan Smadavers Gorontalo Utara. Kenapa bisa berpikiran begitu, karena Kabupaten ini merupakan Kabupaten yang paling baru di Provinsi Gorontalo. Sebagai info saja, sejauh yang kami tahu (sampai selama 6 bulan ini di Gorontalo Utara), di Kabupaten ini masih belum ada satupun warnet. Koneksi internet selain GPRS masih sangat minim di sini. Jadi, kami pikir, paling gak ada yang tahu soal Smadav. Tapi ternyata pikiran itu berubah saat tidak sengaja melihat logo Smadav nongol di pojok kanan bawah taskbar laptop salah satu staf Dinas Kesehatan Gorontalo Utara. Waktu itu kami sedang menghadiri acara autopsi verbal (semacam laporan pertanggungjawaban alias death case) kasus kematian akibat diare pada balita di kantor Dinas Kesehatan Gorontalo Utara. Nah, saat nyiapin file presentasi, ternyata flashdisk yg dicolok di laptop staf Dinkes langsung di-scan oleh antivirus yg gak asing lagi buatku, jreeng… ternyata Smadav sudah sampai sini… yang dipakai pun merupakan Smadav update terbaru pada saat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu, saat diperbantukan untuk tugas jaga di Puskesmas lain, ternyata nemu lagi komputer yg pake Smadav di Puskes itu. Waktu mau ngurus sesuatu ke Puskes yang laen lagi, eh nemu Smadav lagi. Gak tau dapat dari mana, kalo ditanya cuman bilang ngopy dari si A, ngopy dari si B, begitu… jadi gak jelas siapa yang download pertamakali. Kalo aku pribadi, download Smadav cuman lewat hape aja, kemudian dipindah ke laptop. Itulah yg aku sukai dari antivirus ini, portabel dengan ukuran yg kecil (rata-rata antivirus lokal kayaknya model beginian), jd bisa didownload cuman dengan koneksi GPRS lewat hape. Baru-baru ini, pas beberapa staf puskes beli laptop baru di Kota Gorontalo, rata-rata sudah terinstall Windows XP dengan program-program standart, plus Smadav. Selalu ada Smadav di laptop baru staf Puskes… Ternyata salah satu “modus” penyebaran Smadav adalah dari tukang jual laptop di kota, yg langsung sekalian nginstall-in sistem operasi plus program-programnya, yang selalu gak ketinggalan Smadav di dalamnya. Saat ada kesempatan ke kota dan singgah di warnet, ternyata rata-rata juga menggunakan Smadav. Kalo di kota sih gak heran Smadav cepet beredar, karena di Kota Gorontalo warnet sedang menjamur, gampang sekali nyari warnet di sini, rata-rata (atau semuanya ya?) pake Speedy… jadi inget sama Andromeda-Net… How’s life guys???</p>
<p style="text-align:justify;">Hmm… kayaknya Smadav emang sudah mulai tersebar luas, gak cuman di Jawa. Salut deh buat seluruh team Smadav, semoga tetap bisa terus berkarya memberikan yang terbaik buat Smadavers, dan tentunya tetep jadi antivirus terpercaya yang GRATIS sampai kapanpun, hehehe…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=86&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2010/03/18/smadav-di-gorontalo-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/03/smad81_cr.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">smadav81</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PTT, Antara Pengabdian atau Pekerjaan….</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/28/ptt-antara-pengabdian-atau-pekerjaan%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/28/ptt-antara-pengabdian-atau-pekerjaan%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 11:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita PTT]]></category>
		<category><![CDATA[gaji dokter ptt]]></category>
		<category><![CDATA[gaji ptt]]></category>
		<category><![CDATA[PTT dokter]]></category>
		<category><![CDATA[ptt gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah cerita dari seorang teman sejawat di daerah PTT, pernah suatu ketika dia bertanya pada dokter lain saat pemberangkatan PTT, “Sebelum berangkat PTT ini, pekerjaan sampeyan apa?”. Suatu pertanyaan yang sangat biasa di kalangan dokter-dokter PTT. Hal yang terasa agak aneh buatku adalah jawaban sang dokter PTT ini, dengan santainya berkata “Lho, pekerjaan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=32&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ada sebuah cerita dari seorang teman sejawat di daerah PTT, pernah suatu ketika dia bertanya pada dokter lain saat pemberangkatan PTT, “Sebelum berangkat PTT ini, pekerjaan sampeyan apa?”. Suatu pertanyaan yang sangat biasa di kalangan dokter-dokter PTT. Hal yang terasa agak aneh buatku adalah jawaban sang dokter PTT ini, dengan santainya berkata “Lho, pekerjaan saya ya PTT…”. Awalnya agak bingung juga denger jawaban semacam itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-32"></span>Setelah anamnesa lebih jauh, ternyata dokter yang satu ini merupakan angkatan lumayan tua, yang telah berkali-kali melanglangbuana untuk PTT dari satu daerah ke daerah lainnya. Baru kali ini kebayang di benakku hal semacam itu. Kalo cerita tentang teman sejawat yang kerasan di tempat PTT, terus memperpanjang masa PTT-nya sih masih sering denger. Tapi cerita seorang dokter yang tiap tahun daftar PTT dengan daerah yang beda-beda masih terdengar asing di telingaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai seorang dokter (apalagi dokter fresh graduate), pilihan untuk menjalani PTT di daerah kriteria <strong>sangat terpencil </strong>mungkin akan sangat menggiurkan. Gaji dan tunjangan lumayan besar dari Depkes sudah pasti akan ada di genggaman, belum lagi jika ada tambahan insentif daerah, atau tambahan dari praktek pribadi di tempat PTT, sungguh telah menjadi magnet buat sejumlah besar teman sejawat kita. Selesai menjalani PTT, kembali ke daerah asal dengan berjuta-juta pengalaman (dan juga duit tentunya…), untuk kemudian meneruskan studi atau mencari pekerjaan yang baru. Bagi banyak di antara kita, mungkin akan terasa sulit mendapat pekerjaan dengan penghasilan seperti yang didapatkan saat PTT, sehingga sangat mungkin timbul keinginan untuk menjalani PTT lagi di daerah sangat terpencil. Apalagi buat pecinta petualangan, hmm… sambil menyelam minum air, berpetualang ke pelosok-pelosok Indonesia (dengan biaya ditanggung Depkes) sekaligus meraup rupiah dalam jumlah lumayan besar… enak tho, manteb tho…</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dokter-dokter yang PTT di Propinsi Gorontalo, yang aku tau, minimal ada 4 orang dokter yang sudah 2 kali ini menjalani PTT di tempat berbeda, walaupun ada juga dokter yang memperpanjang masa PTT-nya di sini (bahkan kabarnya ada yang sampai 5 kali perpanjangan PTT, edan…). Jumlah itu adalah jumlah yang sudah pasti aku tau, dan mungkin hanya sebagian kecil saja, maklumlah kan gak mungkin aku kenal dan ngobrol dengan semua dokter PTT di Gorontalo ini. Suatu ketika sempet aku tanya ke seorang dokter yang telah 2 kali PTT ini, “Kenapa kok pengen PTT lagi pak?”, ternyata alasannya sangat sederhana dan manusiawi, “Ya karena nganggur gak ada kerjaan, mending PTT aja…”. Sebuah jawaban sederhana dan jujur, yang langsung meresap di benakku. Iya juga ya, ntar abis PTT kan aku juga musti nyari kerja. Dengan titel seorang dokter, ternyata belon tentu akan gampang nyari kerja, sama aja dengan gelar-gelar kesarjanaan yang laen, musti apply dulu, tes, wawancara, dll… Kalo mau jadi PNS juga musti ikut tes CPNS, bersaing dengan ribuan dokter lainnya. So, jadilah PTT sebagai salah satu “<strong>pekerjaan</strong>” alternatif bagi banyak dokter di Indonesia. “Iseng-iseng berhadiah”, istilah salah satu temen yang juga berangkat PTT kemarin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi perlu diingat, dengan adanya fenomena seperti ini, bukan berarti PTT itu selalu enak. Ada juga diantara teman sejawat yang selepas PTT langsung kapok, “gak lagi-lagi deh aku PTT&#8230;”. Nah, “enak” atau tidak menjalani PTT, tentu saja sangat tergantung dari tempat dimana kita PTT. Itulah pentingnya kita punya senior-senior, baik itu durante atau post PTT, yang bisa jadi rujukan info tentang daerah PTT yang mungkin akan kita pilih. Sampai sejauh ini sih cerita yang aku denger tentang dokter-dokter PTT lainnya masih berimbang, antara yang menyenangkan maupun yang mengenaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari enak atau tidaknya PTT yang akan kita lakukan nanti, sebelum mendaftar PTT sudah seharusnya kita mempersiapkan diri buat kemungkinan terburuk. Walaupun sudah banyak perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi sudah bukan rahasia lagi bahwa sampai saat ini masih ada daerah yang kurang memperhatikan kondisi dokter-dokter PTT di wilayahnya. Menyenangkan atau tidak, yang pasti begitu kita sudah di lokasi PTT, mau nggak mau, suka ato enggak ya musti kita jalani, lha wong kita sendiri yang ndaftar PTT… Nah, karena kita PTT <strong>dengan niat kita sendiri</strong>, yang bukan merupakan suatu keharusan, maka sudah menjadi suatu keniscayaan buat kita untuk menjalankan tugas dengan ikhlas.</p>
<p style="text-align:justify;">Lain halnya dengan jaman dulu, dimana PTT merupakan suatu <strong>kewajiban</strong> yang musti dilewati dokter sebelum bisa mendapatkan SIP. Jadi, kalo dipikir-pikir lagi, mungkin PTT jaman dulu lebih ke arah <strong>pengabdian</strong> kali ya (walaupun dengan label “wajib” yang berarti mau ato enggak ya dipaksa musti mau, hehehe…). Singkatnya, sebelum bisa praktek sendiri, ya musti melakukan pengabdian dulu melalui PTT, baik itu emang pengen ato terpaksa karena label “wajib” tadi. Tetapi saat ini rupanya mulai terjadi pergeseran trend, dimana PTT yang walaupun gak lagi diwajibkan, tetapi tetap meraih banyak sekali peminat dengan bermacam-macam motif untuk daftar PTT (ciee… motif, kayak berita-berita kriminal aja). Yah, emang sih, ada indikasi (masih mungkin lo ya) kebanyakan motif utama tetep duit, yang kurang lebih bisa digambarkan dengan banyaknya temen sejawat yang hanya memilih kriteria sangat terpencil, dengan mengosongi pilihan 2 (harus kriteria terpencil) atau 3 (bersedia ditempatkan dimanapun sesuai alokasi jika tidak diterima di pilihan 1 dan 2). So, jadilah PTT kriteria terpencil seringkali banyak tempat yang masih kosong alias gak ada peminatnya (pak ato bu Depkes… ada solusi gak ???).</p>
<p style="text-align:justify;">PTT itu sendiri kerjanya gimana sih? Ya tentu aja sangat bervariasi, tergantung daerahnya juga, kebanyakan sih sebagai dokter fungsional di PKM, bisa PKM rawat jalan ato rawat inap. Trus, beban kerjanya juga bervariasi banget. Ada kalanya beban kerja di daerah kriteria terpencil justru lebih berat daripada di daerah sangat terpencil. Berat ringannya medan yang musti ditempuh, ketersediaan air, listrik, ato rumah dinas juga sangat tergantung dimana kita PTT. Kalo di Gorontalo Utara sih semuanya dah bisa diakses dengan mobil, lewat jalan beraspal, dengan listrik yang alhamdulillah lancar biarpun sering mati mendadak, dan air yang juga masih relatif mudah didapatkan (di tempatku malah ada depo isi ulang air galon, sebutannya di sini “perusahaan air minum”, weleh-weleh…). Yang membedakan kriteria terpencil dengan sangat terpencil paling cuman jauh ato tidaknya dari kota. Tapi, sekali lagi, semuanya dah bisa diakses dengan lancar naik mobil angkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, dari uraian di atas, PTT-ku ini termasuk yang mana nih? Pengabdian??? Pekerjaan??? Hmm… dibilang pekerjaan sih kayaknya gak harus PTT kali buat nyari pekerjaan dg gaji setara PTT kriteria terpencil, di Jawa insyaAllah masih bisa. Dibilang pengabdian juga gak seberat itu kali kerjanya, ya sama aja dengan dokter fungsional PKM di Jawa, cuman lebih sepi aja… lebih sepi pasien, lebih sepi masyarakat, lebih sepi hiburan, lebih sepi suara kendaraan, tapi lebih rame suara jangkrik… Jadi, termasuk yang mana, ya enaknya di-mix aja, termasuk pekerjaan yang mengandung sedikit pengabdian, sekaligus lahan mencari pengalaman… plus bulan madu…hehehe…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=32&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/28/ptt-antara-pengabdian-atau-pekerjaan%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Hidden Paradise….</title>
		<link>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/14/the-hidden-paradise%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/14/the-hidden-paradise%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cool_zygote</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita PTT]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[PTT dokter]]></category>
		<category><![CDATA[ptt gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diazepamania.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[“Welcome to Gorontalo, the Hidden Paradise…”, itulah tulisan yang terpampang di baliho besar di tengah-tengah kota Gorontalo saat kami baru tiba di wilayah ini. Hmm…hidden paradise, yang mana yang disebut paradise ya? Karena hidden, jd gak keliatan paradise-nya… ato karena sampai saat ini kami emang belum sempat menjelajahi wilayah-wilayah eksotik di Gorontalo yang termasuk paradise [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=25&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“<strong>Welcome to Gorontalo, the Hidden Paradise…</strong>”, itulah tulisan yang terpampang di baliho besar di tengah-tengah kota Gorontalo saat kami baru tiba di wilayah ini. Hmm…hidden paradise, yang mana yang disebut paradise ya? Karena hidden, jd gak keliatan paradise-nya… ato karena sampai saat ini kami emang belum sempat menjelajahi wilayah-wilayah eksotik di Gorontalo yang termasuk paradise itu….</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-25"></span>Kalo diliat dari atas, saat pesawat kami hendak landing, landscape Gorontalo terbilang standar pegunungan, banyak gunung yang gak begitu hijau di sana sini, karena emang kebanyakan gunung batu ato gunung kapur, jadi tanaman yang ada juga mayoritas tanaman perdu. Di tepian daratan tampak pantai dengan beberapa pulau kecil di sebrangnya, tidak begitu jelas apakah pantai itu terbilang indah ato enggak karena cuman diliat dari atas pesawat…(sayang sekali Gorontalo view dari atas ini gak sempat terabadikan oleh hp-ku). Setelah landing, ternyata sesuai dugaanku, tanah Gorontalo bisa dibilang gersang, kering…dengan cuaca yang panas… Surabaya aja bagiku udah panas, ternyata di sini lebih panas lagi, bener-bener bakal njalani hari-hari puasa yang berat, pikirku saat itu… Bandara Djalaluddin Gorontalo masih kalah rame dari terminal Arjosari, mungkin kondisinya mirip dengan terminal Landungsari di kota Malang, hehehe… maklum, propinsi baru, jadi semuanya juga masih serba baru dikembangkan. Saat itu masih belum terpikirkan kondisi kota Gorontalo yang akan jadi tujuan pertama kami setelah turun dari pesawat. Perjalanan ke kota tidak jauh dari pemandangan di sekitar bandara, tanah kering dengan rumah-rumah yang jaraknya berjauhan, dan banyak sekali pohon kelapa… gak seperti di Malang ato Surabaya yang sudah susah sekali nyari tanah kosong…</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/hamparan-kelapa.jpg?w=470" alt="hamparan kelapa" /><br />
<em>view di tepi jalan, banyak sekali pohon kelapa</em></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/tanah-gersang1.jpg?w=470" alt="tanah gersang" /><br />
<em>tanah gorontalo yang gersang</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jalan di sini relatif lengang, lebar dengan hanya satu dua mobil melintas. Saat itu aku pikir kayaknya kondisi kota gak jauh beda nih, lengang… Tapi begitu sampai di kota, kondisi berubah drastis, jalanan begitu padat dengan banyak toko, perkantoran, dan beberapa pusat perbelanjaan yang lumayan gedhe. Kondisi ini mirip dengan kota Malang dalam skala kecil, jalan-jalan kecil dengan kendaraan padat. Nah, yang bikin padat ini nih yang tampak aneh buatku, bentor… becak motor… bentuknya seperti becak, tapi bukan dikayuh, melainkan didorong oleh motor. Singkatnya, motor yang setirnya disambung dengan bagian penumpang becak. Banyak sekali bentor berkeliaran di sini, lagi booming kayaknya emang…</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/bentor.jpg?w=470" alt="bentor" /><br />
<em>inilah bentor yang aneh itu, lengkap dg sopir dan penumpangnya</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hmm, ternyata kota Gorontalo jauh lebih rame dari yang aku pikirin… Bank dan ATM juga sudah banyak, ada Bank Mega, BRI, BNI, Mandiri, BCA, Danamon… paling banyak ATM Mandiri… Hotel yang jadi tempat singgah kami sekelas hotel bintang 2, lumayan ada fasilitas AC. Tapi masih ada hotel lain yang jauh lebih bagus dari ini, gak tau bintang berapa tuh… Hebat juga Pak Fadel bisa ngembangin Gorontalo jadi kayak gini… Perjalanan ke Kab Gorontalo Utara berarti meninggalkan lagi kemajuan kota Gorontalo. Di ujung kota kami melewati sebuah menara lumayan gedhe, ternyata ada “menara Eiffel” di Gorontalo, hehehe… Sampe sekarang masih belon tau nama menaranya apa…</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="eiffel" src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/03/eiffel.jpg?w=344&#038;h=449" alt="" width="344" height="449" /><em>menara eiffel ala gorontalo</em></p>
<p style="text-align:justify;">Semakin jauh meninggalkan kota, sekali lagi kami melewati pegunungan batu dengan jalan berkelok-kelok… mirip kota Batu, hanya lebih gersang… jauh lebih gersang…<br />
Sampai di Kab Gorontalo Utara, kondisi jadi sama lagi kayak perjalanan menuju kota pertamakali, rumah-rumah penduduk dengan jarak yang lebar antar rumah, masih banyak banget lahan kosong… Kepadatan penduduk semakin berkurang di wilayah PKM tempat tugas kami. Bahkan letak PKM itu menjorok ke dalam, tidak tepat di pinggir jalan. Di sekitar PKM hanya ada 2 rumah tetangga, baru ada lagi tetangga di tepi jalan… gak jauh sih, tp tetep aja seperti gak ada tetangga, apalagi kalo malem, gelappp… Masih inget sekolah Nobita di serial Doraemon yang punya bukit belakang sekolah itu??? Di sini kami juga punya bukit belakang PKM. Jadi, di depan PKM ada 2 rumah, selebihnya adalah tanah lapang dan gunung. Sementara di belakang PKM hanya ada tanah lapang dan bukit…</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/bukit-belakang-pkm.jpg?w=470" alt="bukit belakang pkm" /><br />
<em>bukit belakang pkm</em></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/depan-pkm.jpg?w=470" alt="depan pkm" /><br />
<em>view di depan pkm</em></p>
<p style="text-align:justify;">Landscape model ini nih yang bikin daerah kami susah sinyal. Bahkan Telkomsel yang digembar-gemborkan sinyalnya kuat banget malah kalah sama IM3 kami. IM3 itupun musti nyari-nyari signal spot, titik-titik sinyal yang ada di sekitar PKM ato rumah dinas di samping PKM. Lucunya nih, signal spot paling kuat di PKM ada di kaca rias pojok ruang Kepala PKM. Jadilah kaca rias itu sebagai tempat rujukan memajang hp bagi semua kru PKM, hanya untuk berburu sinyal… Untuk dapat online juga otomatis musti berburu sinyal GPRS. Sebagai info aja, tulisan-tulisan di blog ini dipublish lewat koneksi GPRS IM3, dengan Nokia 3120 classic-ku sebagai modem… Lemot sih, tapi lumayan lah, asal bisa sabar aja nungguin koneksi yang super lambat, bahkan untuk publish 1 tulisan aja musti setengah mati… Untung aku sabar (hehehe…).
</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke masalah hidden paradise, kabarnya sih emang pantai di Gorontalo cakep-cakep, dengan air yang jernih dan pasir yang tidak lengket ke kaki. Itu mungkin ya yang lebih bisa dibilang sebagai hidden paradise, dibandingkan dengan gunung-gunung batu yang aku pikir standar aja. Nah, kebetulan nih daerah Gorontalo Utara tempat tugas kami merupakan daerah deket pantai, bahkan PKM beberapa temen di daerah kriteria sangat terpencil katanya bener-bener berada di pantai. Jadi, kalo kami punya bukit belakang PKM, mereka malah punya pantai belakang PKM. Wuih, jadi ngiri nih… So, jadilah “studi banding” ke tempat temen-temen kriteria sangat terpencil sebagai salah satu agenda yang harus dilakukan selama di Gorontalo Utara ini, entah kapan… Soon or late, we must see the paradise, no more hidden…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diazepamania.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diazepamania.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diazepamania.wordpress.com&amp;blog=9117692&amp;post=25&amp;subd=diazepamania&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diazepamania.wordpress.com/2009/09/14/the-hidden-paradise%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e80ca20582de4734720f854b574dfed6?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">coolzygote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/hamparan-kelapa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hamparan kelapa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/tanah-gersang1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tanah gersang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/bentor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bentor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2010/03/eiffel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">eiffel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/bukit-belakang-pkm.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bukit belakang pkm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazepamania.files.wordpress.com/2009/09/depan-pkm.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">depan pkm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
